Kasih-Nya Total dan Sosial

Mentari pagi dari ufuk Timur selalu setia memberi cahaya di kehangatan pagi, namun sinar cahayanya kali ini tertutup oleh awan-gemawan sehingga tercipta mendung. Demikianlah gambaran situasi pagi hari di Jumat Agung pada 18 April 2025 dari lembah Puncak khususnya daerah Sindanglaya-Cipanas-Jawa Barat. Walaupun mendung, umat tetap datang penuh semangat menyaksikan visualisasi kisah sengsara Yesus yang berlangsung di kompleks Panti Asuhan Santo Yusup-Sindanglaya-Cipanas.

Dalam kesempatan Jumat Agung kali ini, OMK Gereja Paroki Cipanas dan anak-anak panti asuhan Santo Yusup tampil berkolaborasi dan bekerja sama memvisualisasi kisah derita Yesus dalam bentuk tablo. Tablo dimulai pkl. 08.00. Visualisasi kisah sengsara diikuti tidak hanya oleh umat Paroki Cipanas dan anak-anak panti Santo Yusup, tetapi juga diikuti oleh umat-umat luar seperti dari Jakarta dan sekitarnya yang sedang menyepi mencari keheningan menghayati Jumat Agung di daerah dingin ala Cipanas. OMK Paroki Cipanas dan anak-anak Santo Yusup memberikan tampilan apik sehingga membantu umat menghayati derita Kristus yang total hingga mati di salib. Visualisasi tablo dimulai dari Rumah Retret Semadi Shalom berarak menuju halaman tengah Sekolah Dasar Mardi Waluya.

Selanjutnya, pada pkl. 15.00, dilangsung ibadat Jumat Agung di kapela Panti Asuhan Santo Yusup. Situasi hening dan khusus menghayati derita Yesus yang merelakan diri-Nya wafat di kayu salib. Ibadat dipimpin oleh Romo Guido Ganggus OFM. Suasana hening menyelimuti seluruh ibadat. Anak-anak panti dan umat lainnya juga mengikuti ibadat dengan khusuk. Sebagai bentuk penghormatan akan kisah akhir Yesus di dunia ini, dilakukan penghormatan salib dengan tata cara yang sudah diperbarui. Sejak masa pandemi, pengecupan salib diganti dengan membungkukkan badan atau berlutut depan salib. Demikian juga yang dilakukan di Panti Asuhan Santo Yusup. “Cinta termahal adalah pengorbanan”, ucap Romo Oghy saat sebelum berkat terakhir ibadat. Dalam Jumat Agung ini ia mengajak semua orang untuk selalu menyadari akan pengorbanan Yesus bagi umat-Nya.

Salah satu nilai yang perlu dilihat dari kisah penyaliban Yesus adalah tentang Kasih yang total. Ada ungkapan menarik, “Cinta terpendek adalah putus asa, cinta terpanjang adalah harapan, Cinta paling kejam adalah pengkhianatan, cinta paling indah adalah kasih, dan cinta paling mahal adalah pengurbanan”. Di Jumat Agung ini, umat Kristiani secara bersama merenungkan model cinta paling mahal yaitu pengobanan Yesus sampai Ia benar-benar mati di salib. Yesus yang tersalib mengajarkan umat-Nya bagaimana mencintai secara total, bukan selalu menghakimi. Imam-imam kepala dan orang Farisi menyibukkan diri untuk menghakimi Yesus. Karena itu, mereka kemudian terdorong untuk membunuh-Nya. Yesus sebaliknya menunjukkan kasih-Nya kepada semua orang sampai puncak Golgota.

Ada banyak makna yang dapat dipetik dari kisah sengsara Yesus. Salah satunya adalah ajakan untuk membuka diri agar lebih banyak belajar mencintai daripada menghakimi, belajar melayani tidak hanya untuk diri sendiri karena itu cinta yang egois. Belajarlah tentang cinta yang sosial yang terarah keluar dari diri sebab itulah cara sederhana mewujudkan kasih Yesus karena mungkin umat beriman tidak bisa menghidupkan cinta seperti Yesus dalam pengorbanan salib. Umat diundang untuk mencintai siapapun. Kapan waktunya?: tentu mulai saat ini, mencintai setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Cinta mesti unlimited waktunya. Cinta Yesus jujur bukan pura-pura, cinta Yesus total bukan cinta setengah-setengah, dan cinta-Nya kuat hingga mautpun tak kuasa melawannya. Semuanya dipersembahkan untuk umat pilihan-Nya. Pengorbanan-Nya sekali, penebusannya untuk selamanya. (Ed. Tim Publikasi PA St. Yusup).

Renungan: “Jika terlalu sibuk menghakimi seseorang, kita bisa lupa bagaimana menggunakan waktu untuk mencintainya.”

Oleh: Angelina Zomi Hera
(Anak Panti St. Yusup Kelas 10 SMK)