Selamat pesta Paskah bagi mereka yang merayakannya!. Tahun 2025 adalah tahun Yubelium. Tahun 2025 mengajak umat beriman kristiani untuk memaknai bahwa umat beriman adalah peziarah-peziarah pengharapan. Maka, pesta paskah tahun 2025 mengajak umat untuk merenungan makna pengharapan. Pengharapan di dalam Allah tidak pernah mengecewakan. Peristiwa kebangkitan Yesus adalah peristiwa membangkitkan dan menguatkan harapan, bukan meratapi persoalan-kesedihan terlalu lama namun bagaimana usaha untuk bangun kembali semangat bersama harapan di dalam Yesus yang bangkit.
Kalau mengacu pada kisah Injil yang dibacakan dalam perayaan Sabtu Suci, dikisahkan para perempuan yaitu Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus yang mengunjungi kubur Yesus. Mereka mewakili perjalanan iman para murid Yesus. Harapan mereka awalnya sirna saat Yesus dimakamkan. Mereka gelisah sehingga tidak bisa tidur setelah Yesus dikuburkan. Tetapi mereka tidak takut menghadapi sumber kegelisahan hidup, mereka masih memiliki secerca harapan dalam diri. Itulah sebabnya, pagi-pagi benar mereka sudah pergi ke kubur Yesus. Dan mereka melihat batu yang menutup Sang Terang sudah terguling dan kubur telah terbuka. Saat masuk, mereka tidak menemukan mayat Yesus. Kegelapan kubur tak dapat mengalahkan Cahaya Dunia, kematian tak dapat menahan Sang Kehidupan. Mereka mendengar dari kedua orang yang memakai pakaian yang berkilau-kilauan: “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit.” Pengalaman baru ini membuat mereka menjadi orang-orang yang penuh pengharapan dan kemudian bangkit menceritakan kebangkitan Yesus pada murid yang lain.
Momen Paskah adalah momen menghidupkan harapan. Tahun Yubelium 2025 adalah tahun pengharapan. Pengaharapan harus bernyala bak lilin yang dinyalakan saat Sabtu Suci. Umat beriman adalah peziarah-peziarah pengharapan. Pengharapan harus disertai dengan usaha nyata. Maka, memang umat beriman perlu membangunkan niat dan janji dalam diri untuk menciptakan damai dengan diri sendiri dan orang lain, memperkuat iman, dan menyebarkan kasih bagi banyak orang yang kita jumpai agara harapan tersebut terwujud. Tuhan tidak mempersoalkan bagaimana manusia jatuh dalam dosa, namun yang paling penting adalah seberapa besar usaha serta kemauan untuk bangkit dalam harapan. Manusia masih diberikan kesempatan melalui lilin pengharapan. Tuhan membenci dosa, namun sangat mencintai pendosa yang ingin bertobat.
Pesta Paskah adalah momen agar bangkit bersama harapan menjadi manusia baru dan menguburkan manusia lama. Maka, penting membangun harapan. Kita tidak bisa memutlakkan sesuatu terjadi seperti yang kita rencanakan, namun hanya bisa berharap terjadi seperti yang kita rencanakan. Yang bisa memutlakan terjadi seperti yang kita rencanakan hanyalah Tuhan. Maka, mari berjuang membangun kembali damai dalam diri dan damai dalam kebersamaan sebagai saudara, mari memperkuat iman yang terwujud dalam tindakan nyata, serta memperkuat cinta kasih kepada diri sendiri, Tuhan, dan alam ciptaan.
Perayaan Malam Paskah ini dimaknai sebagai waktu untuk berjaga-jaga dan perayaan kebangkitan Yesus Kristus. Bagi anak-anak Santo Yusup, mereka memaknai sebagai momen pembaharuan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan meninggalkan sifat-sifat buruk sebelumnya yang membuat jauh dari kehidupan menggereja dan kehidupan kristiani. Paskah mengajak bahwa jika manusia merasa bahwa kehidupan sudah tidak bisa lagi diperbaiki janganlah berkecil hati karena manusia masih mempunyai kesempatan dan lilin harapan masih menyala untuk manusia menjadi abdi Tuhan. Selamat membangun kedamaian, selamat membangun iman, dan membangun kasih. Berjuanglah bersama dan pantang menyerah. Selamat pesta paskah untuk kita. Alleluya, Alleluya, Alleluya. Damai Tuhan bersama kita semuanya. (Ed. Tim Publikasi PA St. Yusup).
Oleh: Gracia Sukawati
(Anak Panti St. Yusup Kelas 10 SMA)






